Informasi, Komunikasi dan Silaturahmi

Filsafat Ilmu

Perkembangan ilmu pengetahuan tidak pernah terlepas dari sejarah peradaban manusia. Ia selalu terkait satu sama lainnya. Tidak terkecuali sejarah filsafat ilmu. Filsafat itu sendiri telah muncul sejak ribuan tahun yang lalu di mana akal manusia masih dihadapkan pada ruang dinamika pemikiran yang sederhana dan permasalahan yang tidak begitu komplek seperti saat ini. Latar belakang perkembangan ilmu dimulai sejak zaman purba.

Zaman purba pra sejarah (20.000-10.000 SM) sudah mulai terjadi proses belajar. Hal ini ditandai dengan pemanfaatan batu sebagai alat perkakas yang digunakan pada waktu itu. Melalui proses belajar berangsur-angsur terjadi pemanfaatan dari batu empuk menjadi keras, batu yang dipungut begitu saja menjadi batu yang sengaja untuk dibentuk, menemukan kekuatan alam api dan air, membuat gambar-gambar binatang di gua-gua, dan menguburkan sesamanya yang meninggal. Kemudian pada zaman sejarah (15.000-600 SM) proses belajar ditandai dari pengembangan kemampuan membaca, menulis dan berhitung meskipun masih sangat sederhana.

Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa perkembangan awal yang signifikan dalam ilmu pengetahuan dimulai sejak zaman Yunani Kuno (kurang lebih 600 SM – 200 M). Di mana periode ini ditandai oleh pergeseran gugusan pemikiran (paradigma shift) dari hal-hal yang berbau mistis ke yang logis. Dari kepercayaan mistis yang irrasional terhadap fenomena alam menuju ke arah penjelasan logis yang berdasar pada rasio. Zaman ini dinamakan zaman mulainya penalaran yang selalu menyelidiki, ditandai dengan munculnya ahli filsafat seperti Aristoteles, Socrates, Thales, Archimedes, dan Aristharcus, bahwa menyelidiki dan menjelaskan secara rasional yang digerakkan oleh motivasi estetis dengan tujuan memberikan kepuasan batin kepada orang yang bersangkutan saja.

Abad pertengahan (500 M- 1500 M) berkembangnya ilmu pengetahuan pada Timur Tengah dengan menterjemah karya-karya orang Yunani ke Bahasa Arab. Tokoh-tokohnya seperti Al-Khawarizm → Aljabar, Omar Khayan → penyair, Ibnu Rusyd → kedokteran, dan Al Idrisi → Astronomi. Kemudian pada tahun 1300 M dipelajari oleh bangsa-bangsa Eropa. Pada abad ini perkembangan kebudayaan juga terjadi di Asia Selatan dan Timur, seperti Ajaran Lao Tse (menjaga keharmonisan dengan alam) dan Confucius (konsep kode etik luhur mangatur akal sehat). Di Indonesia perkembangan dapat dilihat dari munculnya kerajaan-kerajaan, pengairan persawahan, kesenian, meramal dan nelayan.

Zaman modern ditandai munculnya ahli-ahli filsafat dan ilmuwan. Ahli filsafat tersebut, seperti Copernicus, Galileo, Keppler, Francis Bacon, dan Rene Descartes, sedangkan ilmuwan diantaranya Newton (tori gravitasi, perhitungan kalkulus dan Optika) dan Wilhelm Konrad Rontgen (Sinar X). Zaman ini dipengaruhi oleh terjadinya perang salib, jatuhnya konstantinopel ke tangan Turki dan hubungan kerajaan Arab di Jazirah Spanyol dan Prancis.

Filsafat dan Filsafat Ilmu
Ilmuwan terangsang imajinasi untuk menemukan dan mengembangkan penemuan asal. Hal ini didasari karena adanya perhatian, kesempatan dan kemauan serta keterampilan. Menurut Beekman (1973) filosofia adalah melihat segala sesuatu dengan perhatian dan minat, kemudian berarti pula berpikir tentang segala sesuatu yang menyadarinya. Dimulai dengan pertanyaan yang teliti, artinya berdasarkan suatu pemikiran tertentu. Banyak sekali pengertian dari filsafat, namun dapat diambil satu benang merah bahwa filsafat yaitu adanya aktivitas manusia yang tidak dapat diamati. Sehingga muncullah filsafat ilmu yang dilatarbelangi adanya penemuan ilmiah.

Berpikir berarti menyusun silogisme dengan tujuan mendapat kesimpulan yang tepat dengan menghilangkan setiap kontradiksi. Secara epistemologis kegiatan berpikir ilmiah melingkupi suatu rantai berpikir logis yang merupakan pengkajian baik deduktif maupun induktif. Berpikir logis maksudnya dapat menggunakan kemampuan akal budinya secara dialektif, intuitif, taksonomi atau simbolik.  Ilmu tidaklah netral atau bebas nilai atau objektif. Ilmu hakikatnya selalu terkait dengan berbagai kepentingan, nilai dan lainnya, baik pada tataran ontologi, epistemologi maupun aksiologinya.

Kreativitas
Kreativitas lahir bersama dengan lahirnya manusia itu. Kreativitas tidak hanya sebagai penalaran, tetapi juga meningkatkan dan membuka tabir alam yang tersedia dalam suatu dimensi kreatif. Kreativitas terdiri dari empat fungsi dasar yang interaktif, yaitu:
1. berpikir rasional,
2. perkembangan emosional,
3. perkembangan bakat khusus, dan
4. tingkat tinggi kesadaran yang menghasilkan imajinasi, fantasi, pendobrakan pada kondisi ambang kesadaran atau ketaksadaran.

Graham Wallas menjelaskan tentang tahap-tahap dalam proses kreatifitas berlangsung melalui persiapan (preparation), inkubasi (incubation), iluminasi (illumination) dan verifikasi (verification). Sadangkan perkembangan kreativitas dapat diibaratkan lingkaran eskalasi yang memiliki aspek urutan (succession), diskontinuitas (discontinuity), kemenonjolan (emergence), diferensiasi dan integrasi.

Peranan aktivitas dalam evolusi ilmu dapat dikembangkan melalui potensi kreatif individu dan kelompok yang merupakan kemungkinan dan kekuatan untuk menjalankan berbagai langkah perubahan kehidupan manusia dalam meningkatkan harkat dan martabatnya.

Pengaruh Dimensi Kreatif
Pengaruh dimensi kreatif dapat dilihat dari perkembangan ide-ide kreatif yang mencetuskan teori-teori ilmiah spektakuler, meskipun terdapat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan tersebut.
a. Ilmu dan Teknologi,
Penemuan-penemuan ilmiah yang pada awalnya hanya bersifat teoretis yang berasal dari ide-ide yang sangat cemerlang, yang bukan saja mempengaruhi penalaran ilmiah dengan langsung, melainkan juga mengubah arah penalaran filosofis tertentu yang sudah mapan pada waktu itu secara tidak langsung. Dampak perkembangan ini munculnya teori relativitas oleh Albert Einstein dan Teori Kuantum oleh Max Planck.
b. Gejolak Alam,
Alam mempunyai karakteristik yang luar biasa, penuh pesona dapat menerangi penalaran filosofis seseorang dan merupakan sumber inspirasi bagi dimensi kreatifnya, namun cenderung diabaikan.
c. Gejolak makhluk hidup,
Manusia belum dapat memahami apa dan mengapanya sebagian besar rahasia di alam ini apalagi untuk mengatasi atau menirunya. Tantangan ini memaksa kaum ilmuwan untuk melakukan kontemplasi dan refleksi filosofis yang merupakan cikal bakal dari ide-ide cemerlang.
d. Biologi,
Berkembangnya ilmu dan teknologi dalam biologi meningkatkan kemajuan dalam menghasilkan sesuatu karya yang selama ini dianggap berada di luar kekuasaan manusia, seperti cloning (menggandakan, fotokopi, membelah diri) dan Rekayasa Genetika (membudidayakan gen yang menguntungkan dan membuang gen yang merugikan). Namun demikian terdapat unsur positif dan negatif akibat perkembangan biologi tersebut.

Ciri seorang ilmuwan sejati yaitu integritas yang tinggi dan rasa keterlibatan dan tanggung jawab moral atas pekerjaan yang digelutinya sehingga terjadi suatu revolusi ilmu. Ciri ini diikuti juga ciri-ciri lainnya seperti keuletan, kejujuran, kerendahan, dan kebebasan hati menghadapi hasil ilmuwan lainnya. Namun, perlu diakui bahwa integritas, kewajiban etis, tanggung jawab sosial dan moral bagi ilmuwan di Indonesia memiliki ciri-ciri tertentu.

Konsep Roger Hahn, mengenai revolusi ilmiah (scientific revolution) adalah suatu transformasi sosial yang penting sekali (crucial) yang menunjuk pada “kondisi ilmu” yang lebih “matang” (nature state) dan mengakibatkan peningkatan (perbaikan) tingkat masyarakat umum yang terpelajar dan peningkatan ilmiah dalam lembaga-lembaga yang lebih khusus serta terwujudnya patokan profesional bagi bidang ilmu yang dimiliki perseorangan. Salah satu ciri terjadinya revolusi ilmu adalah peningkatan masyarakat yang ilmiah sebagaimana refleksikan dalam lembaga-lembaga ilmiah di dalam kehidupan berbangsa.

Penutup
Dimensi kreatif dalam filsafat ilmu menekankan pada pemahaman terhadap filsafat yang melandasi perkembangan ilmu. Bukan saja memberikan pemahaman tentang keterwujudannya dalam ilmu, teknologi dan seni, melainkan juga menciptakan kemungkinan untuk mengatasi berbagai masalah masa depan yang ada pada hari ini belum dapat diantisipasi. (Resume Buku Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Pengarang Conny R Semiawan, dkk)

7 responses

  1. egik miftah

    untuk filsafat ilmu, model pembahasan masih sederhana,ada wacana perkuliahan yang terbaru mengenai peran teknologi dalam revolusi ilmiah

    Mei 27, 2009 pukul 4:35 am

  2. Terimakasih pak egik sudah berkunjung ke blog saya. Dimana bisa saya dapatkan informasi mengenai peran teknologi dalam revolusi ilmiah?

    Mei 27, 2009 pukul 5:44 am

  3. siti sanisah

    thanks untuk pembahasan ini. saya minta izin untuk mendownload. mohon informasi lain yang lebih mendalam tentang hal ini.

    salam

    Juni 30, 2009 pukul 2:08 am

  4. Silahkan bu Siti…

    Agustus 26, 2010 pukul 1:31 am

  5. tety peasu

    makasih, catatannya sangat membantu aku menyelesaikan tugas filsafat. hehehehe semoga tuhan membalas kebaikan anda. jangan bosan2 menulis. izin di copas ya

    Oktober 30, 2012 pukul 7:03 pm

  6. gumuntur

    Sama-sama Bu Tety. Aamiin, Semoga bermanfaat…

    Oktober 31, 2012 pukul 1:06 am

  7. anyaa

    catatn’nya sangat bermanfaat

    Juni 3, 2014 pukul 6:59 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s