Informasi, Komunikasi dan Silaturahmi

KESABARAN HATI DINO YANG MEMBAWA HIKMAH

Disuatu perkampungan ada  anak yang bernama Dino, ia tinggal bersama kedua orangtuanya yang bekerja sebagai buruh tani. Dino seorang anak yang rajin dan sering membantu orangtuanya ketika di ladang, selain itu dino juga termasuk  anak yang pandai disekolahnya. Namun disayangkan Dino harus berhenti sekolah ketika kelas 5 SD,karena kedua orangtuanya sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai  sekolahnya. Hari-hari Dino kini dilaluinya dengan murung dan terkadang ia menyendiri, apalagi ketika ia melihat ada anank-anak yang memakai seragam sekolah rasanya ia ingin sekali menangis. Tapi ia harus tetap bersabar dan berbesar hati, ia tidak mau kedua orangtuanya tau jika ia sedang bersedih. Meski Dino tidak bersekolah lagi ia tetap giat belajar dan membantu orangtuanya, ia berharap suatu saat nanti ia bisa kembali kebangku sekolah.

Suatu hari ketika Dino sedang duduk dibawah pohon kelapa disamping rumahnya, ia mendengar ada yang mengetuk pintu, dan tak lama kemudian pintupun sepertinya sudah terbuka. Sedang asik menikmati udara sore sambil memejamkan mata tiba-tiba ada suara yang bertriak memanggilnya, “oghh ternyata ibu memanggilku, ada apa ya?” ujar Dino dalam hati. Ternyata orang yang mengetuk pintu tadi adalah paman Dino yang datang dari kota.

Ibu      :    Dino, ini paman mu Fatir  ia datang dari kota, pamanmu kemari ingin menengok keluarga kita yang sudah lama tidak bertemu sekalian ada urusan pekerjaan. Paman Fatir seorang insinyur pertanian yang dulu pernah ibu ceritakan, pamunmu melanjutkan sekolah sendiri setelah lama ia bekerja sampai akhirnya pamanmu  menjadi orang sukses.
Dino          :    Paman hebat, kalau begitu aku ingin seperti paman
Paman       :    Boleh saja, tapi ingat kuncinya harus rajin belajar dan jangan putus asa.
Akhinya merakapun terhanyut dalam cerita panjang, tanpa terasa haripun telah larut malam, merekapun beranjak untuk beristirahat.

Keesokan harinya Dino bercerita pada paman Fatir bahwa dirinya kini sudah tidak sekolah lagi (putus sekolah), paman Fatir sangat terkejut mendengar ucapan keponakannya tersebut, tanpa berfikir lagi, pamanpun mengajak Dino untuk ikut kekota bersamanya. “Maukah kamu kekota ikut bersama paman?, ucap paman,, nanti dikota kamu akan satu sekolah bersama Anton saudara sepupumu yang paman ceritakan semalam”. Mendengar hal tersebut Dino senang sekali, “tentu saja saya mau paman, tapi saya harus minta izin dulu kepada ayah dan ibu”, ucap Dino. Tanpa berfikir panjang ia segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari keladang untuk menemuia kedua orangtuanya, disana dino berbicara dan meminta agar kedua orangtuanya mengizinkan dirinya untuk ikut bersama paman Fatir kekota dan bersekolah disana. Walau terasa berat karena anak satu-satunya akan pergi namun mereka merelakan demi masa depan Dino. Tiba saatnya Dino beserta paman Fatir akan brangkat karena urusan paman telah selesai didesa tersebut.

Sesampainya dikota ternyata tidak seindah yang Dino fikirkan, paman Fatir beserta bibinya memang baik terhadapnya, akan tetapi berbeda dengan Anton sepupunya. Sejak kedatangan Dino dirumahnya Anton sudah tidak suka, apalagi ketika ayahnya (paman fatir) birbicara jika Dino akan satu sekolah dengannya. Hari pertama di sekolah sangat menyenangkan bagi Dino, apalagi sejak berkenalan dengan teman-teman barunya, namun berbeda halnya dengan Anton, ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Dino baik disekolah maupun dirumah. Tiba-tiba ada teman satu sekolah mereka yang bertanya “ Anton, Dino itu saudara sepupumu ya?, seprtinya dia orangnya baik dan menyenangkan ya”, ucap salah seorang teman, “ apa?, enak saja kamu bilang, dia bukan saudaraku tapi dia hanya menumpang dirumahku” (ucap Anton sambil berlalu). Mendengar ucapan tersebut hati Dino sangat sedih, tapi dia tetap harus berbesar hati karena dia berfikir mungkin saudara sepupunya tersebut belum bisa menerima kehadirannya, dan berharap secara perlahan Anton bisa menerima kehadiran dirinya di dalam keluarganya. Mendengar ucapan Anton teman-teman merekapun kaget, mereka tidak menyangka anton akan bersikap seperti itu “dasar orang sombong” ucap salah seorang teman dan akhirnya mereka semua masuk kelas karena bel telah berbunyi.

Akibat kesombongannya akhirnya Anton kena batunya, dia diancam oleh anak-anak dari sekolah lain, untungnya Dino tahu tentang hal itu dan mencoba membantu sepupunya tersebut, akhirnya perkelahianpun tidak terjadi. Dari kejadian itu Anton tidak sadar juga, dia masih saja bersikap sombong dan suka menghina oranglain. Kedua orangtuanyapun sudah sering menasehati tapi tetap saja tidak didengarkannya. Suatu hari anak-anak yang kemarin mengancam Anton akhirnya menghampirinya kembali, mereka masih merasa kesal atas sikap Anton yang tidak kunjung berubah dan selalu saja menyinggung perasaan orang lain. Kali ini Dino tidak tahu apa-apa tentang nacaman itu, setelah Dino tahu ternyata Anton sudah menjadi bahan pukulan anak-anak itu.  Dino dengan sigap membantu sepupunya tersebut, anak-anak itupun telah berlalu pergi meninggalkan Anton dan Dino. Muka Anton memar-memar akibat pukulan anak-anak itu, dengan sabar Dino membersihka dan mengobati. Akhirnya Anton sadar kalau sepupunya ini benar-benar tulus dan bukan ingin merebut perhatian kedua orangtuanya dari dirinya. Melihat perubahan anaknya Paman dan bibi Fatir pun menjadi senang, ternyata semua ada hikmahnya. Tanpa terasa mereka kini telah kelas 6 dan sebentar lagi akan mengahadapi ujian akhir, Dino pun berkata “ kalau yang  ini kita patut bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik”, “baik” Anton menjawab sambil mereka tertawa bersama. (Edi Gumuntur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s